Hilang_YOUTHCARE

YOUTHCAREINTERNATIONAL.COM –

Mil, demikian panggilannya.  Namanya Jamil, nama lengkapnya aku sendiri tak tahu. Jamil kawan, dia hanya seorang anak muda. Anak remaja yang sedang bertumbuh.  Anak pelosok kampung miskin yang merantau ke kota besar, Jakarta. Berharap bisa banyak membuat perubahan untuk dirinya, terlebih untuk ibu dan bapaknya, keluarganya.

Dan Jakarta kawan, menawarkan berbagai pesonanya, termasuk pesona kekayaan, uang. Dan jamil-pun tertarik padanya. Jamil kecil merantau ke Jakarta, tinggal di sebuah masjid menjadi marbot.

Dialah Jamil. Disela kerjaannya membersihkan masjid, dia melanjutkan sekolah yang sempat terputus sampai lulus sekolah menengah atas, Kawan. Lagi-lagi dialah Jamil.

Dalam kesederhanaan, Kawan. Sosok jamil juga menginginkan sesuatu. Memimpikan punya barang. Hp, motor, laptop, mobil.
Hemm.. Sama dengan mimpi anak-anak seusianya.

Hanya ada yang beda, Kawan. Jamil yanga seorang marbot, untuk sebuah mimpi benda-benda seperti itu, ia harus banyak menelan ludah. Tak hanya biaya sekolahnya, Jamilpun punya keluarga di kampung halaman. Orangtua yang sudah tua, juga adik-adik yang masih meminta.

Dan inilah narasi hidupnya. Jamil harus susah payah mengusahakan semua. Menyisihkan lembar demi lembar rupiah. Untuk mimpinya, Kawan. Barang-barang itu.

“Man jadda wajada” dan demikian Jamil lakukan. Hingga akhirnya sebagian mimpinya terwujud. Jamil sudah memegang hp. Ia juga memiliki laptop. Dan kini ia sudah bisa pergi dengan motor.  Benar kawan, keuletan dan kegigihan menyisihkan selembar demi lembar rupiah, terbeli juga benda-benda itu. Meski kadang beli untuk sekian tahun. Kredit! Seperti motornya itu.

“Ingin naik motor, ingin naik motor sendiri”, demikian akunya ringan. Seolah tak ada halangan, siapapun boleh punya motor. Alasan itulah penyemangat Jamil, dan Allah kabulkan pintanya.

Dan narasi itupun berjalan. Ya, narasi episode Jamil. Narasi kehidupan Jamil. Narasi kisah demi kisahnya.

Jamil serba terbatas. Hidup dalam kesulitan. Namun kebangkitan tekadnya merubah perlahan. Dia bukan lagi anak miskin kampungan. Tapi setidaknya kini sudah memiliki barang-barang sendiri, termasuk motor sebagai kendaraan pribadinya.
Padahal dia hanya seorang marbot , Kawan.

Di antara narasi indah hidupnya, Allah gilirkan narasi kepedihan pada Jamil. Seusai lebaran kemarin, motornya hilang. Ya, kendaraan pribadinya hilang. Bertahun-tahun uang itu dikumpulkan. Bertahun-tahun menahan kesenangan untuk bisa kredit sebuah motor. Baru saja senang bisa membawa pulang motor ke kampungnya, ternyata Allah punya narasi lain.

Gundah hati, Kawan. Demikian yang dirasa Jamil. Kesulitan hidup diiringi semangat dan kerja kerasnya, sampai dia bisa kredit motor. Namun belum juga setahun kreditnya itu, Allah uji dengan kehilangan.

“Hanya berpindah tangan, namanya juga titipan, sabar Mil…”,  demikian nasihat disampaikan banyak jamaah masjid tempat Jamil mengabdi. Jamil hanya bisa terdiam. Dalam kepiluan panjang, usahanya bertahun-tahun, jeri payah dan pengorbanannya, kini beralih menjadi kisah kesedihan. Mimpinya pudar. Raib entah kemana.
**

Adalagi Dar. Dia hanya seorang mahasiswa. Seorang anak muda kampung pinggiran Kalimantan, yang merantau ke ibukota karena beasiswa melanjutkan pendidikan. Dar hanya lulusan sekolah kejuruan. Dia mengambil keahlian di bidang otomotif. Berharap bisa menjadi mortir di bengkel-bengkel kecil, untuk kemudian mendapatkan upah dan membantu orangtuanya.

Tapi Allah punya rencana lain. Dar mendapat beasiswa, melanjutkan pendidikan ke ibukota. Sebuah kampus Islam swasta memberinya peluang untuk banyak belajar guna menjadi da’i nantinya. Menjadi pejuang bumi dengan amanah langit.

Kegembiraan bersambut, Dar tak hanya menjadi mahasiswa. Dia juga diberi kelengkapan alat, laptop. Pemberian, Kawan. Tapi inilah narasi indah itu. Dipergilirkan juga pada Dar. Disaat dia sedang banyaknya amanah, sebagai ketua redaktur buletin jum’at di kampusnya, dengan lagi seabreg tugas kuliahnya, dia sangat ketergantungan dengan laptopnya. Seolah laptop itu separuh nyawanya. Dan inilah narasi itu, Kawan.

Saat pesta buku Islam yang lalu, Dar datang kesana membawa tas dan laptopnya. Niatnya baik. Dar menuju mushola saat kumandang adzan terdengar. Dar shalat di sebuah mushola besar. Mushola yang ada di tempat pesta buku Islam itu. Bukan kelalaian, Kawan. Tapi inilah narasi itu bicara. Tas dan laptop Dar hilang. Berpindah tangan.

**

Narasi indah itu berjudul hilang. Ya…kehilangan, Kawan.
Kehilangan akan benda-benda yang kita miliki.
Mungkin tak apa bagi yang memiliki banyak uang.
Kehilangan mobil-pun dalam sekejap bisa datang lagi.

Lalu bagaimana dengan Jamil dan Dar?
Seolah kehidupan tak adil bagi mereka.
Tapi beginilah narasi indah itu berkisah.
Bahwa hidup itu penuh rasa, Kawan.
Ada manis ada pahit.

Narasi indah itu bernama kehilangan.
Mungkin benar juga kita harus banyak belajar.
Belajar kehilangan, Kawan.
Belajar memaknai kehilangan.
Lebih tepatnya, belajar memaknai kepemilikan barang kita.

Penjaga parkir.
Mungkin ini paling tepat.
Untuk menggambarkan kepemilikan barang kita.
Bahwa sesungguhnya semua hanya titipan saja.

Belajarlah dari tukang parkir.
Saat yang datang mobil butut, dia tersenyum.
Saat yang datang mobil mewahpun, dia tersenyum.
Dan senyumannya hanya berubah sedikit.
Sedikit lebih menarik dan lebih lebar senyumnya.
Bagi yang narsis, dia bisa foto disamping mobil mewah itu.

Tak apa, Kawan.
Tak harus menyentuh untuk sekedar berdiri di samping mobil.
Lalu dengan hp kameranya dia berfoto.
Meminta teman sepenanggungan memotonya.
Dan diupload di fb.
Memotivasi diri.
Atau visualisasi.
Atau untuk sekedar nampang.
Tapi begitulah tukang parkir..itulah hiburannya.

Belajarlah dari tukang parkir.
Saat dia mulai menyukai mobil mewah itu.
Saat mata dan perhatiannya ditujukan ke modifikasi baja bermesin itu.
Tiba-tiba datang sang empunya.
Masuk ke mobil dan meninggalkannya.
Meninggalkan sang tukang parkir.

Mobil itu tak hilang.
Tapi berpindah tempat.
Dan tukang parkir paham.
Mobil itu hanya titipan yang punya.
Tak ada hak kita melarangnya memindahkan.

Tukang parkir.
Ah mungkin kurang seru.
“Dia kan nggak mengusahakan datangnya mobil.
“Dia kan hanya menunggu dan menjaga”

Oke,
Kini kita pakai perumpamaan lain.
Makanan contohnya.
Makanan apa saja yang mahal.
Pizza misal.

Hari demi hari.
Kadang gaji sebulan UMR kita pertahankan.
Menahan kerinduan makanan mahal.
Hingga suatu saat kita mewujudkan.
Kita datang ke restoran yang menjual pizza.

Hemm…inilah narasi itu kawan.
Pizza itu hanya titipan.
Perjuangan mendapatkan sangat keras.
Tapi kenikmatan memiliki dan menikmatinya hanya sepanjang ujung mulut sampai tenggorokan.
Selebihnya tak ada yang bisa dirasakan.
Dan tak lama akan menjadi kotoran yang harus kita buang.
Kita harus ikhlas membuangnya.

Narasi indah itu bernama hilang.
Bahwa semua barang itu hanya titipan.
Meski kita harus mengusahakan untuk benda itu datang.
Seperti makanan tadi.
Kita harus ikhlas mmebuangnya saat sudah jadi kotoran.
Demikian juga seharusnya kita menyikapi kepemilikan.

Narasi indah itu bernama hilang.
Pelajaran untuk kita, Kawan.
Untuk lebh siap dan ikhlas dengan setiap episode.
Dengan setiuap kisah yang akan kita lewati.
Semua narasi sudah dijanjikan.
Sabar dan ikhlas itulah kuncinya.

Sekali lagi karena kita hanya menjalankan peran.
Sang pembuat narasi, Dialah yang berkuasa.

Narasi indah itu bernama hilang…

(nan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *